-->
INILAH LIST SIARAN ARDA TV
Toko Sosmed
EBOOK: KESLING, MOTIVASI & PENGEMBANGAN DIRI
WWW.ARDADINATA.COM WWW.ARDADINATA.COM

Daftar Artikel


Maju, Meningkat, Berprestasi
Lihat Detail

Maju, Meningkat, Berprestasi


Maju, Meningkat, Berprestasi
Oleh Arda Dinata

HIDUP ini adalah proses belajar. Apa pun yang dilihat, terjadi di sekeliling kita, sesungguhnya adalah ilmu dan pelajaran yang dapat kita maknai agar hidup kita menjadi lebih maju, meningkat dan berprestasi.


Maju itu berarti melangkah ke depan. Apa pun bentuk dan wujud dari sebutan maju itu, tidak lain sesungguhnya mengharuskan kita supaya bergerak. Bergerak itu menyehatkan dan mensejahterakan.

Coba kita lihat dengan seksama, apa yang terjadi apabila saluran air di suatu tempat itu tidak mengalir. Maka di situ akan muncul yang namanya bau busuk dan menjadi sumber muncul bibit penyakit. Sebaliknya, kalau aliran air tersebut mengalir  maka kondisinya akan menyegarkan lingkungan sekitarnya. Airnya jadi jernih menyehatkan dan dapat didayagunakan demi kesejahteraan warga sekitarnya bila debit airnya mencukupi.

Lebih jauh, kondisi orang yang selalu bergerak maju tentu kehidupannya akan menjadi lebih produktif dalam menghasilkan sebuah karya. Dengan produktifitas dalam menghasilkan karya, maka kehidupan seseorang itu dengan sendirinya akan meningkat. Derajat hidupnya menjadi terus terangkat dengan rangkaian ilmu-ilmu yang dia sebarkan kepada sebanyak-banyaknyan orang melalui media yang dikuasainya.

Sahabat…., betapa indahnya bila hidup kita selalu dimakanai dengan hikmah. Sebab, rangkaian perilakunya akan terus mengalir dan menyebarkan kebaikan lewat ilmu yang dimilikinya. Lewat ilmu-ilmu yang dimiliki dan disebarkannya, maka kehidupannya akan terus bernilai prestasi.

Bukankah, orang-orang yang berilmu (dan mengamalkannya), dia akan ditinggikan derajatnya. Apalagi, ilmu yang diamalkan itu akan menjadi amal saleh yang terus mengalir sepanjang ilmu itu terus diamalkan. Bukankah, ini sebuah deposito amal yang tidak akan ada habisnya, walaupun diri kita sudah meninggal.

Untuk itu, maknailah hidup ini secara benar. Di antara langkah yang perlu kita lakukan adalah tanamkan dalam diri kita agar hari-hari kita selalu diisi dengan hal-hal yang dapat menggerakan, meningkatkan kualitas hidup dan berprestasi. Jadikanlah hal-hal tersebut menjadi “makanan” yang selalu membikin lapar.

Dalam hal ini, ada ungkapan yang cukup inspiratif dari Arnold Schwarzenegger yang mengatakan, “Bagi saya hidup adalah lapar yang berkelanjutan. Makna dari hidup bukan hanya sekadar eksis, bertahan hidup, tapi bergerak maju, meningkat, berprestasi, menaklukkan.”

Akhirnya, kita berdoa semoga diri ini menjadi orang-orang yang selalu maju, meningkat kualitas hidupnnya, dan terus berprestasi. Aamiin….

Pangandaran, 12 September 2012

Salam Inspirasi Sukses

ARDA DINATA


Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Maju, Meningkat, Berprestasi
Oleh Arda Dinata

HIDUP ini adalah proses belajar. Apa pun yang dilihat, terjadi di sekeliling kita, sesungguhnya adalah ilmu dan pelajaran yang dapat kita maknai agar hidup kita menjadi lebih maju, meningkat dan berprestasi.


Maju itu berarti melangkah ke depan. Apa pun bentuk dan wujud dari sebutan maju itu, tidak lain sesungguhnya mengharuskan kita supaya bergerak. Bergerak itu menyehatkan dan mensejahterakan.

Coba kita lihat dengan seksama, apa yang terjadi apabila saluran air di suatu tempat itu tidak mengalir. Maka di situ akan muncul yang namanya bau busuk dan menjadi sumber muncul bibit penyakit. Sebaliknya, kalau aliran air tersebut mengalir  maka kondisinya akan menyegarkan lingkungan sekitarnya. Airnya jadi jernih menyehatkan dan dapat didayagunakan demi kesejahteraan warga sekitarnya bila debit airnya mencukupi.

Lebih jauh, kondisi orang yang selalu bergerak maju tentu kehidupannya akan menjadi lebih produktif dalam menghasilkan sebuah karya. Dengan produktifitas dalam menghasilkan karya, maka kehidupan seseorang itu dengan sendirinya akan meningkat. Derajat hidupnya menjadi terus terangkat dengan rangkaian ilmu-ilmu yang dia sebarkan kepada sebanyak-banyaknyan orang melalui media yang dikuasainya.

Sahabat…., betapa indahnya bila hidup kita selalu dimakanai dengan hikmah. Sebab, rangkaian perilakunya akan terus mengalir dan menyebarkan kebaikan lewat ilmu yang dimilikinya. Lewat ilmu-ilmu yang dimiliki dan disebarkannya, maka kehidupannya akan terus bernilai prestasi.

Bukankah, orang-orang yang berilmu (dan mengamalkannya), dia akan ditinggikan derajatnya. Apalagi, ilmu yang diamalkan itu akan menjadi amal saleh yang terus mengalir sepanjang ilmu itu terus diamalkan. Bukankah, ini sebuah deposito amal yang tidak akan ada habisnya, walaupun diri kita sudah meninggal.

Untuk itu, maknailah hidup ini secara benar. Di antara langkah yang perlu kita lakukan adalah tanamkan dalam diri kita agar hari-hari kita selalu diisi dengan hal-hal yang dapat menggerakan, meningkatkan kualitas hidup dan berprestasi. Jadikanlah hal-hal tersebut menjadi “makanan” yang selalu membikin lapar.

Dalam hal ini, ada ungkapan yang cukup inspiratif dari Arnold Schwarzenegger yang mengatakan, “Bagi saya hidup adalah lapar yang berkelanjutan. Makna dari hidup bukan hanya sekadar eksis, bertahan hidup, tapi bergerak maju, meningkat, berprestasi, menaklukkan.”

Akhirnya, kita berdoa semoga diri ini menjadi orang-orang yang selalu maju, meningkat kualitas hidupnnya, dan terus berprestasi. Aamiin….

Pangandaran, 12 September 2012

Salam Inspirasi Sukses

ARDA DINATA


Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Maju, Meningkat, Berprestasi
Oleh Arda Dinata

HIDUP ini adalah proses belajar. Apa pun yang dilihat, terjadi di sekeliling kita, sesungguhnya adalah ilmu dan pelajaran yang dapat kita maknai agar hidup kita menjadi lebih maju, meningkat dan berprestasi.


Maju itu berarti melangkah ke depan. Apa pun bentuk dan wujud dari sebutan maju itu, tidak lain sesungguhnya mengharuskan kita supaya bergerak. Bergerak itu menyehatkan dan mensejahterakan.

Coba kita lihat dengan seksama, apa yang terjadi apabila saluran air di suatu tempat itu tidak mengalir. Maka di situ akan muncul yang namanya bau busuk dan menjadi sumber muncul bibit penyakit. Sebaliknya, kalau aliran air tersebut mengalir  maka kondisinya akan menyegarkan lingkungan sekitarnya. Airnya jadi jernih menyehatkan dan dapat didayagunakan demi kesejahteraan warga sekitarnya bila debit airnya mencukupi.

Lebih jauh, kondisi orang yang selalu bergerak maju tentu kehidupannya akan menjadi lebih produktif dalam menghasilkan sebuah karya. Dengan produktifitas dalam menghasilkan karya, maka kehidupan seseorang itu dengan sendirinya akan meningkat. Derajat hidupnya menjadi terus terangkat dengan rangkaian ilmu-ilmu yang dia sebarkan kepada sebanyak-banyaknyan orang melalui media yang dikuasainya.

Sahabat…., betapa indahnya bila hidup kita selalu dimakanai dengan hikmah. Sebab, rangkaian perilakunya akan terus mengalir dan menyebarkan kebaikan lewat ilmu yang dimilikinya. Lewat ilmu-ilmu yang dimiliki dan disebarkannya, maka kehidupannya akan terus bernilai prestasi.

Bukankah, orang-orang yang berilmu (dan mengamalkannya), dia akan ditinggikan derajatnya. Apalagi, ilmu yang diamalkan itu akan menjadi amal saleh yang terus mengalir sepanjang ilmu itu terus diamalkan. Bukankah, ini sebuah deposito amal yang tidak akan ada habisnya, walaupun diri kita sudah meninggal.

Untuk itu, maknailah hidup ini secara benar. Di antara langkah yang perlu kita lakukan adalah tanamkan dalam diri kita agar hari-hari kita selalu diisi dengan hal-hal yang dapat menggerakan, meningkatkan kualitas hidup dan berprestasi. Jadikanlah hal-hal tersebut menjadi “makanan” yang selalu membikin lapar.

Dalam hal ini, ada ungkapan yang cukup inspiratif dari Arnold Schwarzenegger yang mengatakan, “Bagi saya hidup adalah lapar yang berkelanjutan. Makna dari hidup bukan hanya sekadar eksis, bertahan hidup, tapi bergerak maju, meningkat, berprestasi, menaklukkan.”

Akhirnya, kita berdoa semoga diri ini menjadi orang-orang yang selalu maju, meningkat kualitas hidupnnya, dan terus berprestasi. Aamiin….

Pangandaran, 12 September 2012

Salam Inspirasi Sukses

ARDA DINATA


Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Cinta dan Magnet Bathiniah
Lihat Detail

Cinta dan Magnet Bathiniah

Oleh: ARDA DINATA

CINTA, merupakan kata yang mudah diucapkan dan orang tidak akan merasa jera untuk membicarakannya. Semakin lama seseorang mengenal cinta, maka orang tersebut akan mengatakan pada ego-nya, bahwa hidup ini sangat berarti karena ke-pelik-an, ke-unik-an dan ke-plus-an dari pada nilai yang terkandungnya.

Pernah ada kejadian yang penulis temui tentang seseorang yang merasa risih, alergi, atau pura-pura alergi apabila mendengar pembicaraan masalah cinta. Dalam pikiran penulis saat itu melintas sebuah tanda tanya?? Mungkinkah orang itu belum sadar, bahwa cinta merupakan hal yang suci dan fitrah bagi diri manusia.

Cinta adalah fitrah alamiah manusia yang didasarkan atas akal yang sehat, bukan berdasarkan insting seperti makhluk lainnya (hewan). Atas dasar dan pondasi inilah, kita melihat dengan “mata telanjang”, bahwa setiap manusia tertarik kepada individu lain dalam kelompok karena adanya suatu kekutan internal (baca: magnet bathiniah).
Oleh: ARDA DINATA

CINTA, merupakan kata yang mudah diucapkan dan orang tidak akan merasa jera untuk membicarakannya. Semakin lama seseorang mengenal cinta, maka orang tersebut akan mengatakan pada ego-nya, bahwa hidup ini sangat berarti karena ke-pelik-an, ke-unik-an dan ke-plus-an dari pada nilai yang terkandungnya.

Pernah ada kejadian yang penulis temui tentang seseorang yang merasa risih, alergi, atau pura-pura alergi apabila mendengar pembicaraan masalah cinta. Dalam pikiran penulis saat itu melintas sebuah tanda tanya?? Mungkinkah orang itu belum sadar, bahwa cinta merupakan hal yang suci dan fitrah bagi diri manusia.

Cinta adalah fitrah alamiah manusia yang didasarkan atas akal yang sehat, bukan berdasarkan insting seperti makhluk lainnya (hewan). Atas dasar dan pondasi inilah, kita melihat dengan “mata telanjang”, bahwa setiap manusia tertarik kepada individu lain dalam kelompok karena adanya suatu kekutan internal (baca: magnet bathiniah).
Bahasa Perumpamaan
Lihat Detail

Bahasa Perumpamaan


Bahasa Perumpamaan
Oleh : Arda Dinata


Bahasa diartikan sebagai lambang (bunyi bahasa) yang dipakai manusia untuk melahirkan pikiran dan perasaan. Atau bisa juga merupakan perkataan-perkataan yang dipakai oleh suku bangsa, negara, daerah, dan lainnya. Sedangkan perumpamaan berarti ibarat, amsal, persamaan (perbandingan), atau peribahasa. Jadi, bahasa perumpamaan itu adalah bahasa berupa ibarat, amsal, perbandingan, atau peribahasa yang digunakan untuk melahirkan pikiran/ perasaan tentang sesuatu hal.


Dalam Al-Quran banyak kita temui ayat-ayat yang menggunakan gaya bahasa perumpamaan. Baik yang menyangkut peringatan, kabar gembira maupun sindiran terhadap manusia. Bahasa perumpamaan itu digunakan dalam Al-Quran, tidak lain agar manusia selalu ingat terhadap isi pesan yang disampaikan Allah SWT.

Salah satu bahasa perumpamaan itu dapat kita temui dalam QS. Ibrahim: 24-25, ”Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seijin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”
Biasa Ala Orang yang Berilmu
Lihat Detail

Biasa Ala Orang yang Berilmu


Biasa Ala Orang yang Berilmu
Oleh ARDA DINATA

Orang berilmu berarti orang yang banyak ilmunya; berpengetahuan; pandai. Dengan ilmu, seseorang akan diberi cahaya dalam hidupnya. Ilmu laksana obor dalam kegelapan. Di sinilah, pentingnya ilmu dalam hidup manusia. Sehingga, pantas saja Rasulullah saw bersabda, "Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim laki-laki dan perempuan."

Perilaku biasa ala orang berilmu, tentu akan berbeda dengan orang yang tak berilmu. Allah berfirman, "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al-Mujadillah: 11),

Imam Al Ghazali dalam Mukhtasar Ihya' Ulumuddin, mengungkapkan bahwa derajat itu tergantung pada dekat dan jauhnya ilmu itu dari akherat (baca: ilmu agama Islam-Pen). Sebagaimana ilmu-ilmu syar'iyah mengungguli ilmu-ilmu lainnya, ilmu yang berkaitan dengan hakikat hukum-hukum syar'iyah mengungguli ilmu yang berkaitan dengan hukum-hukum dhahir. Orang yang faqih memutuskan berdasarkan dhahirnya, apakah hukumnya sah atau tidak, dan dibalik itu terdapat ilmu untuk mengetahui apakah ibadah diterima atau ditolak. Inilah perilaku biasa ala orang yang berilmu (ilmu-ilmu kesufian).